Kamis, 16 Februari 2012

SENYUMAN TERAKHIR

Ia tersenyum. aku dapat melihatnya dengan jelas, matanya sedikit menyembunyikan rasa pilu. aku mengusap lenganya yang keriput itu, kemudian ku peluk tanganya yang tergeletak tanpa daya

"ibu.." panggilku

ia tak mau menjawab. Bukan tak mau menjawab, ia tak bisa menjawab. Ia masih terbaring tanpa gerakan sedikitpun. Bibirnya yang manis tertutupi oleh alat bantu pernafasan.
13 tahun silam, aku masih mengigatnya. Bibirmu kau gunakan untuk mendongeng hingga aku tertidur pulas. Masa itu aku merindukanya. Tidak seperti sekarang dimana kau hanya menggoreskan satu tawa yang begitu sulit dilakukan. Bibirmu yang selalu menasehatiku, yang selalu tersenyum riang, kini telah hilang. Aku tak bisa merasakan deritamu seutuhnya, namun aku yakin itu begitu perih.

 ssssek.. Jemarinya bergerak, sedikit.

Aku terpanjat dari tempat duduk, "ibu! jari telunjukmu bergerak!" seruku.

Ia menggerakan lagi, apakah tuhan masih memiliki keajaibanya? aku yakin. Ibuku pasti akan diberikan keajaiban untuk tetap hidup. Aku tak mampu menahan haru. Aku melihat air matanya mengalir perlahan membasahi pipinya. Aku tak pernah melihat senyumu yang seperti ini.

Oh tidak.. kakinya menjadi kejang, tanganya menghentak menerjang, tatapanya menjadi kosong. Aku tak bisa melihat senyumnya.

"Dokter!Ibuku! Kemari!" teriaku memanggil seorang dokter. Aku panik

Dalam keadaan cemas, sesekali aku mengintip (dari jendela), dokter yang disibukan dengan berbagai macam alat medis. Dokter tersenyum.

Lalu ia menggelengkan kepalanya. mengangkat alas tilam menutupi wajah ibuku. Lalu, berjalan perlahan keluar ruangan.

"Maafkan saya, tuhan telah memanggil ibumu ke sisinya." ujar dokter.

"Inikah keajaibanmu? Terimakasih telah memberikanku kesempatan melihat senyumnya yang terakhir.






(cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh , tempat, waktu, dan peristiwa, hanyalah kebetulan belaka)